Simposium Nasional
Simposium Nasional
08 Mar 2016 01:37
Simposium Nasional
ERA Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah berjalan empat bulan sejak ditetapkan awal Januari 2016. Semua sektor usaha harus bersiap diri menjalani era perdagangan bebas ini, tidak terkecuali sektor keuangan dan pihak perbankan. Demikian yang di sampaikan oleh Bapak Dr. Halim Alansyah Ketua ISEI Cabang Jakarta dalam sambutannya pada acara pembukaan SNKP-1 di Auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Jakarta.

Sejauh mana kesiapan dari sektor ini dibahas dalam sebuah Simposium Nasional Keuangan dan Perbankan I (SNKP-1) yang diadakan Sekolah Tinggi Ekonomi Indonesia (STEI) berasama dengan International Finance Management Association (IFMA), ISEI Jaya dan beberapa perguruan tinggi Indonesia selama dua hari, 28-29 April.
 
Simposium ini menghadirkan sejumlah pembiacara, yakni Dr Budi Frensidy SE, MCom, dari Universitas Indonesia yang memaparkan Behavioral Finance, Johan Sulaemen PhD dari National University of Singapore dan Prof Rubi Ahmad dari Universiti Malaya yang membahas metodologi penelitian dalam bidang keuangan dan perbankan.
 
Selain itu, ada diskusi panel yang membahas kesiapan sektor keuangan dan perbankan menghadapi pasar bebas MEA dengan narasumber yaitu Joko Prastowo Nugroho, MA (Senior Economic BI)dan Abdul Manap Pulungan, SE (Peneliti INDEF) yang dipandu moderator Tyasika Ananta, SE,. MBA (BNI).
 
Dalam simposium ini juga dihadirkan presentasi dari kalangan akademisi. Sebanyak 52 dari 60 karya tulis dipaparkan di depan 200 orang yang terdiri dari narasumber, presenter, peserta nonpresenter, dosen, dan mahasiswa.
 
Ketua STEI Drs. Ridwan Maronrong, MSc mengatakan simposium ini akan menghasilkan banyak pemikiran-pemikiran di kalangan akademisi khususnya untuk memacu kontribusi industri jasa keuangan agar mampu bersaing menghadapi MEA. "Sebab, di era perdagangan bebas ASEAN ini, persaingan akan lebih terlihat dan cepat, termasuk di dunia perbankan," ujarnya dalam keterangan tertulis kepada pers, Kamis (28/4).
 
Drs. Ridwan Maronrong, MSc berharap dari hasil simposium ini akan memberikan sumbangan pemikiran, mengembangkan ilmu, dan praktik dalam bidang keuangan dan perbankan berbasis riset, serta mengasah kemampuan para akademisi, mahasiswa, dan praktisi dalam melakukan riset dengan kajian secara kritis.
 
Ia menegaskan, kini para dosen dan akademisi di perguruan tinggi fokus dalam melakukan riset dan penelitian di bidang keuangan dan perbankan. Agar nantinya bisa menghasilkan salah satu masukan bagi pengambil kebijakan di kedua sektor tersebut.
 
"Kita fokus pada riset. Bagaimana dosen akademisi di berbagi perguruan tinggi lebih fokus dalam bidang penelitian di bidang keuangan dan perbankan. Agar lahir masukan baru bagi pengambilan kebijakan bagi keuangan perbankan," tambahnya.
 
Selain itu, diharapkan hasil simposium itu dapat dipublikasikan ke jurnal nasional dan internasional. Terlebih lagi Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi kini terus memacu penelitian dan publikasi para akademisi di Indonesia.
Untuk bidang hasil penelitian, Indonesia menduduki peringkat 4 di antara Negara-negara ASEAN. Singapura berhasil membuat 27 ribu penelitian, Malaysia 28 ribu, sedangkan Indonesia hanya di bawah 20 ribu penelitian yang sudah dipublikasi dalam jurnal internasional.
 
STEI sendiri mendorong setiap dosen untuk melakukan penelitian dan publikasi. Untuk itu, kata Ridwan, pihak kampus telah menyiapkan dana Rp1 miliar untuk riset dan publikasinya.

PROGRAM STUDI STEI

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia memiliki 6 Program Studi

KAMPUS STEI
STEI INDONESIA
Jl. Kayujati Raya 11A Rawamangun
Jakarta Timur 13220
 
Telepon Kampus A dan B :
(021) 475 - 0321
 
Telepon Kampus C :
(021) 489 - 1073
 
Fax :
(021) 472 - 2371